SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
KESEHATAN MASYARAKAT
PAPER
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Surveilans Kesehatan Masyarakat
Dosen Pengampu : Hamdan, SKM.,MKM
Disusun oleh :
Nama : Icka Irma
NIM : CMR0180043
S1 KESEHATAN MASYARAKAT
REGULER B TINGKAT 3
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN KUNINGAN
Jl. Lingkar Kadugede No.2 Kuningan Telp: (0232) 875847 Fax: 875123 www.stikku.ac.id
2020/2021
A. Prinsip Dasar dan Konsep Surveilans Epidemiologi
Surveilens adalah
kegiatan pengumpulan data yang sistematik dan menghasilkan
informasi epidemiologik untuk perencanaan, implementasi dan penilaian
pembrantasan penyakit (WHO, 1968). Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan pengumpulan
data epidemiologi secara sistimatis, teratur & terus menerus meliputi konsolidasi dan evaluasi data, diseminasi kepada para pengambil keputusan, diseminasi kepada yg butuh informasi (Langmuir , 1963). Atau dengan kata lain, surveilans epidemiologi adalah pengolahan
analisa dan interpretasi data hingga menghasilkan informasi. Selanjutnya
informasi disebarkan kepada orang/lembaga yang berkepentingan, dalam rangka
memantau, menilai dan merencanakan kembali program-program atau pelayanan.
Tujuan kegiatan surveilans yaitu :
1. Menilai Status Kesehatan Masyarakat
2. Menilai Kejadian/Masalah
3. Menentukan Prioritas Masalah
4. Mengevaluasi Program
5. Memberikan Masukan pada Penentu Kebijakan
6. Melaksanakan Riset
Selain itu, manfaat kegiatan surveilans antara lain :
1. Estimasi kuantitatif dari besar suatu masalah kesehatan
2. Dapat menggambarkan riwayat alamiah penyakit
3. Deteksi epidemik
4. Dokumentasi distribusi &penyebaran masalah kesehatan
5. Fasilitas riset epidemiogik dan laboratorium
6.
Uji hipotesis
7. Evaluasi efektivitas pemberantasan dan pencegahan
8. Memantau aktivitas isolasi
9. Deteksi perubahan dalam praktek kesehatan
10. Perencanaan program kesehatan
11. Memantau jangkauan pelayanan kesehatan
Adapun unsur kunci surveilans epidemiologi diantaranya :
1. Pengumpulan Data Kesehatan Secara Jelas Untuk Perencanaan Kesehatan,
Pemberantasan,Pencegahan Penyakit dan
Promosi Kesehatan
2. Pengumpulan Data yg Terus Menerus
3. Analisis Sewaktu-waktu
4. Diseminasi Hasil
5. Bertindak Berdasarkan Hasil
6. Evaluasi Periodik Dari Sistem
Berikut ini jenis-jenis surveilans dan perbedaannya :
1.
Surveilans Kesehatan Masa Depan
a.
Penggunaan komputer
b. Pembaharuan aktivitas yg berhubungan dengan surveilens yaitu epidemiologik
dan analisis statistik
c.
Diseminasi melalui media elektronik dan alat komunikasi lain
d. Memperhatikan dan melindungi masalah
etikadan legal
e.
Konsep surveilens diterapkan pada bidang penyakit kronik, kesehatan
lingkungan, kesehatan kerja dan pencegahan cedera
2.
Surveilans Penyakit Menular
a.
Cenderung untuk memantau dan memprediksi adanya wabah/epidemik
b.
Interval waktu pelaksanaan pengumpulan data dalam mingguan dan bulanan
c.
Sumber data dapat berasal dari sarana pelayanan kesehatan
d.
Feed back dan tindak lanjut harus dilaksanakan segera
3.
Surveilans Penyakit Tidak menular
a.
Cenderung untuk memantau keberhasilan pelaksanaan program pencegahan dan
pengendalian
b.
Interval waktu pelaksanaan pengumpulan data dalam tahunan
c.
Sumber data berbasis populasi lebih representatif
d.
Analisis didasarkan pada hasil Evaluasi proses dan Evaluasi
output/impak/out come
e.
Feed back dan tindak lanjut setelah evaluasi tahunan
Indikator surveilans dapat
disingkat SMART, yaitu :
1.
Specific (spesifik)
2.
Measurable (dpt diukur)
3.
Action oriented (orientasi pd
aksi)
4.
Realistic (realistis)
5.
Timely (tepat waktu)
Prinsip umum surveilans :
1.
Data
Data dapat berupa masalah kesehatan seperti :
·
Penyakit (misalnya campak, malaria)
·
Cedera (misalnya trauma fisik, luka bakar)
·
Sindrom (misalnya AFP, kuning, AIDS)
·
Isue kesehatan masyarakat (misalnya drop-out terapi TB)
·
Lingkungan (e.g., pencemaran Pb, Hg)
Sumber data :
·
Sistem pelaporan penyakit
·
Statistik Vital
·
Survei
·
Tes Laboratorium
Definisi kasus :
·
Klinis/laboratoris
·
Tingkat (suspected, probable, confirmed)
·
Indikator
2.
Pelaporan
Frekuensi pelaporan bisa segera, mingguan, atau bulanan. Sedangkan metode pelaporan
bisa melalui kertas,
telefon,
Fax, E-mail.
3.
Aliran data
a.
Tingkat Perifer : Klinis (suspected)
-
Deteksi
-
Penanganan
-
Laporan
b.
Tingkat menengah : data lab penunjang + kaitan epidemiologi (probable)
-
Analisis
-
Investigasi
-
Laporan
-
Respon
-
Umpan balik
c.
Tingkat pusat (DepKes) : Lab.
Diagnostik (confirmed)
-
Analisis
-
Investigasi
-
Konfirmasi
-
Respon
-
Perencanaan & dana
-
Umpan balik
d.
Tingkat regional/internasional (WHO) : Lab. rujukan Regional
-
Analisis dan Umpan balik
-
Dukungan
-
Kebijakan dan target
-
Pendanaan
4.
Analisis & Interpretasi
a.
Karakteristik data
-
Berbagai sumber pelaporan
-
Berbagai tingkat mutu
-
Pengumpulan data terus menerus yang dapat berubah
b.
Validasi data
-
Missing values
-
Bias
-
Duplikasi
c.
Analisis descriptive
-
Waktu
-
Tempat
-
Orang
d.
Formulasi hipotesis
-
Berkaitan dengan waktu
-
Berkaitan dengan tempa
-
Berkaitan dengan orang
5.
Pengendalian
-
Respons cepat
-
Manajemen kasus
-
Pencegahan (mis: imunisasi)
6.
Umpan balik
-
Bulletin Epidemiologi
-
Laporan2
-
Website, dll.
7.
Kebijakan
-
Perubahan kebijakan
-
Prediksi, perencanaan
-
Kewaspadaan epidemi
8.
Evaluasi
-
hasil dari aksi
-
hasil surveilens
Terakhir, fungsi surveilans
dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1.
Fungsi inti
-
Deteksi
-
Pelaporan
-
Investigasi & konfirmasi
-
Analisis & interpretasi
-
Aksi/ respons
2.
Fungsi Penunjang
-
Pelatihan
-
Supervisi
-
Sumber daya
-
Standard / panduan
B. Studi Kasus Surveilans Epidemiologi
Gambaran Epidemiologi Kasus
Campak Di Kota Cirebon Tahun 2004-2011 (Studi Kasus Data Surveilans
Epidemiologi Campak Di Dinas Kesehatan Kota Cirebon)
Pendahuluan
Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus campak dengan
gejala prodromal seperti demam, batuk, coryza/pilek, dan konjungtivitas,
kemudian diikuti dengan munculnya ruam makulopapuler yang menyeluruh diseluruh
tubuh.1 Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang banyak menyerang
anak-anak. Statistik menunjukan bahwa lebih dari 70% kematian anak-anak usia
dibawah 5 tahun disebabkan diare, pneumonia, campak, malaria dan malnutrisi.
Penularan campak terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh
sekret orang yang telah terinfeksi. Penyakit campak mempunyai masa inkubasi
10-14 hari, merupakan jangka waktu dari mulai mendapat paparan sampai munculnya
gejala klinik penyakit.1,2 Dari data statistik WHO pada tahun 2010 menyebutkan
bahwa 1% kematian pada anak usia dibawah lima tahun disebabkan oleh campak.3
Indonesia termasuk negara berkembang yang insiden kasus campaknya cukup tinggi.
Dari profil kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010 dilaporkan Incidence
Rate campak di Indonesia sebesar 0,73 per 10.000 penduduk. Sedangkan CFR pada
KLB campak pada tahun 2010 adalah 0,233.
Pada tahun 2010 Jawa Barat termasuk propinsi yang memiliki kejadian kasus
terbanyak setelah Jawa Tengah dengan Incidence Rate sebesar 0,61 per 10.000
penduduk. Kota Cirebon termasuk salah satu kota di Jawa Barat dengan insiden
campak tinggi. Setiap tahun selalu terjadi kasus campak bahkan di tahun 2010
terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak di wilayah Kelurahan Argasunya
Puskesmas Sitopeng. Cakupan immunisasi pada tahun 2010 di wilayah ini kurang
dari 59% dengan CFR sebesar 0,46.
Insiden kumulatif di kota Cirebon pada tahun 2010 yaitu 11,38 per 10.000
penduduk dan menurun pada tahun 2011 menjadi 4.79 per 10.000 penduduk. Insiden
kumulatif kasus campak di Cirebon tahun 2011 untuk golongan umur <1 tahun
sebesar 21,05 per 10.000 orang tahun, umur 1-4 tahun sebesar 11,22 per 10.000
orang tahun, umur 5-9 tahun sebesar 24,16 per 10.000 orang tahun, umur 10-14
tahun sebesar 12,92 per 10.000 orang tahun dan umur > 15 tahun sebesar 0,9
per 10.000 orang tahun.
Campak lebih banyak menyebabkan keparahan pada anak-anak di bawah lima
tahun (balita). Infeksi lebih sering terjadi dan lebih berat pada anak usia
balita, hal ini disebabkan karena sistem imun belum matang pada usia muda. Jenis
kelamin, menurut beberapa penelitian tidak berhubungan dengan kejadian campak.
Status imunisasi campak setiap individu akan berpengaruh terhadap
perlindungan kelompok dari serangan penyakit campak di wilayah tersebut. Dengan
tersedianya vaksin yang sangat poten maka imunisasi merupakan salah satu cara
yang paling efektif untuk menanggulangi penyakit campak di masyarakat. Program
imunisasi campak menganjurkan pemberian vitamin A, karena infeksi campak juga
dikaitkan dengan penurunan kadar vitamin A, dan rendahnya kadar vitamin A
dikaitkan dengan peningkatan mortalitas anak.
Kasus campak terjadi sepanjang tahun di Cirebon, setiap bulan selalu ada
laporan suspek kasus campak. Berdasarkan karakteristik tempat (place), tempat
yang sering terjadi kejadian kasus campak adalah tempat yang cakupan
imunisasinya rendah.
Secara keseluruhan pencapaian Univesal Child Imunization (UCI) dari tahun
2004 sampai 2011 cenderung mengalami peningkatan. Cakupan imunisasi kota
Cirebon sebesar 86% pada tahun 2011 ini telah mencapai target cakupan imunisasi
rutin di tingkat kabupaten yaitu > 80 %, namun walaupun telah mencapai
target UCI cakupan imunisasinya belum merata, hal ini terlihat dari
ditemukannya beberapa desa / kelurahan yang belum mencapai target UCI. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran epidemiologi kasus campak
di Kota Cirebon tahun 2004-2011.
Metode Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran epidemiologi
kasus campak di Cirebon tahun 2004-2011. Populasi penelitian adalah semua data
kasus campak yang dilaporkan dari 22 puskesmas se-Kota Cirebon pada tahun
2004-2011 ke sub bagian Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) di Kota Cirebon.
Variabel
terikat adalah jumlah kejadian campak. Variabel bebasnya terdiri dari umur,
jenis kelamin, status vitamin A, status imunisasi, cakupan imunisasi, tempat,
dan waktu (bulan). Instrumen penelitian yang digunakan adalah Form C1 yang
digunakan untuk menganalisis data kasus campak. Metode pelaksanaannya yaitu
dengan mengolah dan menganalisis data sekunder yang terkumpul di sub bagian
Pengendalian Masalah Kesehatan. Data-data yang diperoleh kemudian diolah
melalui tahap-tahap pengolahan data sebagai berikut:
1.
Pembuatan Struktur Data
2.
Entri Data
3.
Analisis Data
Analisis yang digunakan adalah
analisis univariat, Analisis univariat pada variabel orang digunakan untuk
melihat dan mendeskripsikan besarnya distribusi frekuensi dan insiden kasus
campak pada umur, jenis kelamin, status imunisasi dan status vitamin A.
Analisis univariat pada variabel waktu digunakan untuk melihat trend pada bulan
kasus. Analisis univariat pada variabel tempat digunakan untuk melihat kasus
campak dengan pengaruh kondisi geografisnya serta cakupan imunisasi campak di
tempat tersebut.
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Epidemiologi Kasus Campak di Cirebon tahun 2004-2011
1. Berdasarkan Variabel Tempat
Insiden campak berdasarkan
kecamatan per 10.000 penduduk, diketahui bahwa pada tahun 2004 - 2011 Insiden
kasus tertinggi sering terjadi di dua kecamatan yaitu kecamatan Kesambi dan
kecamatan Harjamukti.
Tingginya insiden campak di
kecamatan Kesambi pada tahun 2004, 2005, 2007 dan 2009 diperkirakan karena
kepadatan penduduk yang tinggi. yaitu sebesar 8.827,30 penduduk per km2.
Dikatakan tinggi karena kepadatan penduduk kecamatan lebih tinggi dari pada
kepadatan penduduk kota. Diketahui bahwa penularan penyakit campak (transmisi
virus campak) lebih mudah terjadi pada perumahan rakyat yang padat, daerah yang
kumuh dan miskin, serta daerah yang populasinya padat. Menurut teori kepadatan
penduduk merupakan persemaian subur bagi virus, sekaligus sarana eksperimen
rekayasa genetika secara ilmiah. Pemukiman yang padat dapat mempermudah
penularan penyakit yang menular melalui udara, terutama penyakit campak yang
proses penularannya terjadi saat percikan ludah atau cairan yang keluar ketika
penderita bersin.
Sedangkan untuk kecamatan
Harjamukti insiden campak yang tinggi disebabkan cakupan imunisasi rutin campak
yang belum mencapai target UCI pada salah satu kelurahannya. UCI merupakan
keadaan tercapainya cakupan imunisasi dasar lengkap ≥ 80% sebelum anak usia
satu tahun.Pencapaian imunisasi ini akan memberikan dampak jika cakupan ≥ 80%
dan merata di seluruh kelurahan. Cakupan imunisasi yang rendah salah satunya
disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan para orang tua yang berpengaruh
terhadap perilaku mereka, termasuk perilaku mengimunisasi anak. Alasan sebagian
masyarakat menolak anaknya diimunisasi karena khawatir pemberian imunisasi akan
menimbulkan efek samping. Hal ini sesuai dengan teori Lawrence Green bahwa
perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang. Penelitian Irham (2010) juga
yang menyatakan bahwa pengetahuan ibu tentang campak mempengaruhi perilaku
Imunisasi campak.
Dari peta Insiden Kumulatif
penyakit campak yang ada pada bab hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari
tahun ke tahun telah terjadi perubahan warna pada tiap kecamatan, hal ini
menunjukan perioditas penyakit campak. Kadang penyakit campak pada suatu
wilayah pada tahun tertentu tinggi namun pada tahun berikutnya penyakit campak
tersebut tiba-tiba hilang dan bukan menjadi masalah kesehatan, hal ini
disebabkan oleh kekebalan kelompok pada suatu daerah tersebut. Perubahan warna
juga disebakan adanya Kejadian Luar Biasa pada tahun tertentu.
Kemudian Insiden campak
tertinggi diperkirakan juga oleh penguatan surveilans campak di kecamatan
tersebut, dimana peningkatan insiden campak yang cukup besar dikarenakan sistem
surveilansnya sudah semakin baik sehingga kasus yang terlaporkan juga semakin
banyak terdeteksi.
2. Berdasarkan Variabel Orang
a. Berdasarkan Kelompok Umur
Insiden campak berdasarkan
kelompok umur di Cirebon tahun 2004, 2007, 2008, dan 2010 insiden campak
tertinggi terjadi pada kelompok umur < 1 tahun, dan tahun 2005 dan 2006
insiden campak tertinggi pada kelompok umur 1-4 tahun. Sedangakan tahun 2009
dan 2011 insiden campak tertinggi pada kelompok umur 5-9 tahun. Insiden kasus
campak terendah tahun 2004 sampai 2011 pada kelompok > 15 tahun.
Secara umum, insiden campak
tinggi pada kelompok umur di bawah 5 tahun setiap tahunnya. Tetapi pada
beberapa daerah dengan cakupan imunisasi tinggi dan merata cenderung bergeser
kepada kelompok umur yang lebih tua (5-9 tahun).17 Pada kelompok umur di bawah
5 tahun kebanyakan belum pernah terserang penyakit campak sebelumnya sehingga
belum ada antibodi yang terbentuk. Pada kelompok umur itu juga balita belum
terimunisasi
b. Berdasarkan Jenis Kelamin
Sesuai dengan penelitian Suwono
di Kediri dengan desain penelitian kasus kontrol mendapatkan hasil bahwa
berdasarkan jenis kelamin, penderita campak lebih banyak pada anak laki-laki
yakni 62%. Titer antibodi wanita secara garis besar lebih tinggi dari pada
pria. Tetapi secara keseluruhan tidak ada perbedaan insiden dan tingkat
kefatalan penyakit campak pada wanita ataupun pria.
c. Berdasarkan Status Imunisasi
Pada tahun 2010 proporsi kasus
campak dengan status tidak imunisasi lebih banyak dari pada yang diimunisasi.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa status imunisasi campak
berpengaruh terhadap perlindungan tubuh dari serangan penyakit campak.8
Pendidikan diduga berhubungan dengan prosentase anak yang mendapatkan imunisasi
dasar termasuk juga campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga
dan ibu maka semakin tinggi pula cakupan imunisasi.
Sedangkan pada tahun 2011
proporsi kasus campak dengan status imunisasi lebih banyak dari pada yang tidak
diimunisasi. Hal itu bisa terjadi karena kegagalan dalam imunisasi campak, hal
ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Dari faktor host bisa disebabkan oleh
karena umur bayi pada waktu diberi imunisasi, masih adanya antibodi maternal
dari ibu. Umur bayi saat imunisasi berpengaruh terhadap daya guna vaksin
campak. Daya guna vaksin akan menurun jika diberikan pada bayi yang lebih muda
karena proporsi antibodi maternal masih tinggi, umur saat bayi kehilangan
antibodi maternal adalah waktu yang optimal.
Dari faktor agent bisa karena
pengaruh virus vaksin campak yang virulen, dan mengalami mutasi galur virus
campak. Oleh karena itu, pemberian imunisasi dosis ke dua menjadi penting untuk
mengatasi kegagalan pembentukan antibodi pada pemberian imunisasi pertama.
Antibodi akan bertahan lebih lama jika mendapat booster, adanya infeksi ulang
oleh virus atau oleh vaksin pada saat titer antibodi rendah, akan merangsang
sel memori menghasilkan antibodi secara cepat dan mencapai puncaknya selama 12
hari.
Dari hasil penyelikan tim
Ditjen PPM & PLP dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang KLB
penyakit Campak di Desa Cinta Manis Kecamatan Banyuasin Sumatera Selatan (1996)
dengan desain cross sectional, ditemukan balita yang tidak mendapat imunisasi
Campak mempunyai risiko 5 kali lebih besar untuk terkena campak di banding
balita yang mendapat Imunisasi.
Sampai saat ini di Cirebon
pencegahan penyakit campak dilakukan dengan imunisasi campak secara rutin yang
diberikan pada bayi berumur 9 – 15 bulan. Status imunisasi campak setiap
individu akan berpengaruh terhadap perlindungan kelompok dari serangan penyakit
campak di wilayah tersebut karena vaksinasi campak dapat menekan angka
kesakitan penyakit campak. Oleh karena itu, imunisasi campak rutin pada anak
balita harus tetap dilakukan dengan metode yang lebih optimal, selain itu perlu
adanya program-program tambahan seperti Catch Up Campaign Campak, Crash program
Campak dan imunisasi rutin tambahan pada anak kelas 1 SD yang dikenal dengan
istilah BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) Campak.
d. Berdasarkan Status Vitamin A
Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi
kekebalan tubuh pada manusia. Anak - anak yang mendapatkan cukup vitamin A,
bila terkena penyakit, penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga
tidak membahayakan jiwa anak. sedangkan anak yang kekurangan vitamin A dapat
menurunkan respon antibody yang bergantung pada limfosit yang berperan sebagai
kekebalan pada tubuh seseorang.
Program imunissasi campak
menganjurkan pemberian vitamin A, karena infeksi campak juga dikaitkan dengan
penurunan kadar vitamin A, dan rendahnya kadar vitamin A dikaitkan dengan
peningkatan mortalitas anak. Anak yang kekurangan vitamin A akan mengalami gangguan
respon imun saat imunisasi, dan menunjukkan sel T yang abnormal yang mengacu
kelainan imunodefisiensi.
Dari data yang ada menunjukan
proporsi kasus campak dengan status diberi vitamin A lebih banyak dari pada
yang tidak diberi vitamin A. Hal ini berbeda dengan teori yang menyatakan bahwa
pemberian vitamin A dapat meningkatkan respon antibody yang berperan sebagai
kekebalan pada tubuh seseorang. Hal ini mungkin terjadi karena status vitamin A
pada anak tidak cukup mampu untuk melawan infeksi virus. Pertahanan tubuh
terhadap infeksi virus memerlukan pertahanan yang bersifat spesifik, sedangkan
pemberian vitamin A merupakan pertahan tubuh yang bersifat non spesifik.
e. Berdasarkan Variabel Waktu
Distribusi kasus campak hampir
ada disetiap tahun dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2011 di Cirebon, dan cenderung
mengalami penurunan, akan tetapi setiap tahunnya kasus paling banyak pada bulan
April dan Oktober. Hal ini menunjukan bahwa telah terjadi KLB campak dimana
transmisi tertinggi pada bulan Maret - April dan September – Oktober.
Campak merupakan penyakit yang
mempunyai periodisitas tahunan (cyclic) dimana campak bersifat
endemis/berjangkit sepanjang tahun, bisa muncul kapan saja sepanjang tahun dan
tidak mengenal musim. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian retrospektif oleh
Jusak di rumah sakit umum daerah Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 1989, ditemukan
Campak di Indonesia sepanjang tahun. Akan tetapi pada penelitian ini terdapat
fenomena yang cukup menarik yaitu kasus campak dari tahun 2004-2011 setiap
tahunnya kasus tertinggi pada bulan April dan Okrober.
Faktor yang menyebabkan
tingginya kasus campak pada bulan tersebut misalnya karena pada bulan tersebut
musim hujan dimana udara menjadi lebih lembab dari pada musim kemarau.
Kelembaban yang tinggi dapat mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh seseorang
dan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi.
Kelembaban di cirebon berkisar antara ± 48-93% menyebabkan transmisi penyebaran
virus campak lebih tinggi. Prevalensi transmisi penyebaran virus campak lebih
tinggi pada tempat dengan kelembaban tinggi.
Analisis Deskriptif Cakupan Imunisasi Campak di Cirebon tahun 2004-2011
Di
antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi(PD3I), campak
adalah penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak
merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa
tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya
adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak 90%. Diseluruh negara ASEAN dan
SEARO.2
Cakupan
imunisasi merupakan salah satu indikator keberhasilan program pencegahan dan
pemberantasan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Pencapaian
Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi terhadap
cakupan atas imunisasi dasar lengkap Desa UCI merupakan gambaran desa/kelurahan
dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapatkan imunisasi
dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI menurut renstra Kementerian
Kesehatan 2010-2014 adalah 80%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan
target 100% desa/ kelurahan UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Cakupan
imunisasi campak tiap kelurahan mempengaruhi tingkat herd immunity (kekebalan
pada kelompok masyarakat). Cakupan imunisasi campak di Cirebon pada tahun
2004-2011 sudah mencapai target UCI yaitu >80%, kecuali pada tahun 2005.
Dari
tahun 2004-2011 cakupan imunisasi campak cenderung mengalami peningkatan.
Meskipun cakupan imunisasi campak sudah mencapai UCI, akan tetapi kasus campak
masih banyak terjadi di Cirebon, hal ini berarti jumlah kasus yang terus ada
tersebut tidak merepresentasikan hasil kinerja cakupan imunisasi yang
sesungguhnya. karena cakupan imunisasi campak yang lebih dari 80% seharusnya
dapat menurunkan angka morbiditas campak sampai dengan 50% dan cakupan
imunisasi campak yang lebih dari 90% diharapkan dapat memutuskan transmisi
virus campak.
Ketidaksesuaian
harapan jumlah kasus dengan cakupan imunisasi ini (jika cakupan imunisasi
tinggi diharapkan kasus rendah) dapat dipahami karena cakupan imunisasi
merupakan hasil rata-rata dikeseluruhan cakupan imunisasi di 22 kelurahan di
Cirebon, sedangkan pada kenyataannya cakupan imunisasi tidak merata di seluruh
kelurahan di Cirebon, dimana ada kelurahan yang cakupan imunisasi sangat tinggi
(100%) tetapi ada juga kelurahan yang cakupan imunisasinya rendah (<50%)
sehingga terjadi kasus yang cukup tinggi pada kelurahan yang belum mencapai
herd immunity tinggi.
Untuk itu diperlukan kegiatan lain yang dapat berdampak terhadap pencapaian
cakupan imunisasi seperti membina kerjasama lintas sektoral dan lintas program.
Strategi operasional yang dilakukan ditingkat Puskesmas adalah: Catch up
compaign, program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Crash program Campak dan
Ring vaksinasi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
gambaran epidemiologi kasus campak di Cirebon tahun 2004-2011 dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1)
Gambaran epidemiologi kasus campak di cirebon tahun 2004-2011 berdasarkan
karakteristik tempat, orang, dan waktu.
a.
Insiden kasus campak tertinggi sering terjadi didua kecamatan yaitu
kecamatan Kesambi dan kecamatan Harjamukti.
b.
Insiden kasus campak tertinggi di kota Cirebon berdasarkan kelompok umur
paling banyak terjadi pada kelompok umur < 5 tahun.
c.
Proporsi kasus campak pada laki-laki lebih banyak terjadi dibandingkan
dengan perempuan.
d.
Pada tahun 2010 proporsi kasus campak pada kelompok dengan status tidak
diimunisasi lebih banyak terjadi, sedangkan pada tahun 2011 proporsi kasus
campak lebih banyak pada kelompok yang sudah diimunisasi.
e.
Proporsi kasus campak pada kelompok dengan status diberi vitamin A lebih
banyak terjadi dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi vitamin A.
f.
Jumlah kasus campak di Cirebon tahun 2004 sampai dengan tahun 2011
terbanyak pada bulan April dan Oktober.
2)
Cakupan Imunisasi Campak di Cirebon Tahun 2004-2011
a.
Cakupan imunisasi campak di Cirebon pada tahun 2004 sampai dengan 2005
mengalami penurunan, sedangkan dari tahun 2005 sampai 2011 mengalami
peningkatan.
b.
Cakupan tertinggi pada tahun 2004 yaitu cakupan imunisasi sebesar 96.55%.
c.
Cakupan terendah pada tahun 2005 yaitu cakupan imunisasi sebesar 73.42%.
C. Pengalaman Belajar dengan Media Online
Perkuliahan menggunakan media online tentunya masing-masing memiliki kelebihan
dan kekurangan. Beberapa kelebihan dari Study
From Home (SFH) antara lain :
1.
Waktu Belajar Lebih Fleksibel
Media online bersifat tidak terbatas, Bisa diakses kapanpun dan dimanapun
serta tidak harus terpatok waktu masuk dan pulang seperti pembelajaran langsung
di kampus atau sekolah.
2.
Lebih melek IT
Belajar dengan media online
tentunya tidak lepas dari peranan teknologi yang menjembatani mahasiswa untuk
memperoleh materi perkuliahan yang tentunya dengan beragam pilihan, tidak hanya
terbatas pada buku.
Sedangkan kekurangan dari SFH
ini, diantaranya :
1.
Media Pembelajaran yang Digunakan Banyak
Banyaknya media pembelajaran online
tidak membuat dosen serentak menyamakan media tsb sehingga media yang digunakan
dosen untuk penyampaian materi dan pengunggahan tugas berbeda-beda mulai dari
E-Learning, Whatsapp Group, Zoom, Telegram, Classroom, Blog, Youtube, dll.
Banyaknya media ini justru
seringkali membuat mahasiswa kebingungan untuk mengunduh banyak aplikasi demi
mendukung pembelajaran, sehingga menjadikan pembelajaran itu sendiri tidak
efektif.
2.
Jadwal Terkadang Tidak Tentu
Fleksibelnya pembelajaran
menggunakan media online terkadang membawa kekurangan tersendiri, salah satunya
adalah ketidakpastian jadwal perkuliahan. Terkadang dosen masuk tidak sesuai
pada jam nya dikarenakan rapat atau kepentingan pribadi, sehingga mahasiswa
harus stay untuk mengetahui info
jadwal susulan. Atau terkadang, beberapa dosen hanya memberikan bahan bacaan
dan tugas pada jam tersebut, tidak disertai dengan penyampaian materi seperti
perkuliahan langsung.
3.
Terkendala Jaringan dan Paket Data
Mahasiswa berasal dari berbagai
kalangan dan berbagai daerah, sehingga jaringan/signal dan paket data/kuota
terkadang menjadi hambatan. Beberapa mahasiswa berada di daerah yang sulit
terjangkau oleh signal yang notabene hanya berada di titik-titik tertentu,
sehingga mau/tidak mau harus menempuh jarak ratusan KM untuk mencapai tempat yang
mungkin jauh dari rumahnya. Begitupun dengan paket data, mahasiswa harus selalu
sedia karena jika paket habis maka tidak bisa mengikuti perkuliahan.
Oleh
karena itu, beberapa saran yang dapat penulis sampaikan untuk mengevaluasi hal
diatas antara lain :
1.
Menetapkan jadwal perkuliahan. Jika memang seringkali dosen memiliki
kendala di hari tersebut maka bisa barter
atau bertukar jadwal dengan dosen lain, bisa pula melakukan penggabungan
jadwal dengan kelas lain.
2.
Mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran dengan cara menghapus daftar
aplikasi yang sekiranya berfungsi sama dan beralih ke aplikasi yang banyak
digunakan dosen lainnya seperti whatsapp, zoom, dan e-learning.
3.
Mengoptimalkan penyampaian materi sebelum penugasan, agar tidak ada
miss-komunikasi antara dosen dengan mahasiswa terkait tugas yang diberikan
REFERENSI :
Materi
Mata Kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat Pertemuan Pertama tentang Prinsip Dasar dan Konsep Surveilans
Epidemiologi
Nurani,
D. S. (2012). Gambaran Epidemiologi Kasus Campak di Kota Cirebon tahun
2004-2011 (Studi Kasus Data Surveilans Epidemiologi Campak Di Dinas Kesehatan
Kota Cirebon). Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, 1(2), 18799.